Meski Ditelan Zaman, Kerajinan Gerabah Milik Megawati Tetap Eksis

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Kotamobagu,WB—Di era serba modern, pengrajin gerabah sangat sulit untuk ditemukan. Gerabah sendiri adalah perkakas yang terbuat dari tanah liat dibentuk kemudian dibakar dan dijadikan alat-alat berguna bagi kehidupan manusia.

Meski demikian, masrayakat Kota Kotamobagu patut untuk berbangga hati. Dikarenakan masih ada salah satu warga yang hingga saat ini mempertahankan kerajinan gerabah sejak turun temurun. Yakni Megawati Nading (59), warga Kelurahan Molinow, Kecamatan Kotamobagu Barat ini mengaku sudah menggeluti kerajinan tersebut selama 15 tahun.

“Keahlian itu didapatkan dari sang ibunda yang merupakan salah satu perintis kerajinan gerabah. Ada beberapa jenis kerajinan yang Ia bikin seperti, pot bunga, tampah sagu dan lain-lain. Untuk sehari saja, saya bisa membuat 5 hingga 10 buah gerabah, itu dibuat sesuai pesanan dari pelanggan, biasanya dimasukan lagi ke pasar-pasar yang ada di Kotamobagu,” ujar mama Pandi sapaan akrabnya saat, Kamis (30/10/2019) kemarin.

Dikatakannya, pembuatan gerabah masih secara manual. Namun, produknya terbilang cukup baik dan rapi. Adapun bahan baku seperti tanah liat yang dia ambil dari perkebunan setempat dan memiliki kualitas yang baik.

“Kalau tidak baik tanah liatnya pasti gerabahnya juga tidak baik. Jadi biasanya dibentuk terlebih dahulu kemudian di jemur kurang lebih 2 hari, setelah kering lalu dibakar menggunakan sabut kelapa dan bambu agar masaknya lebih baik dan kuat,” tuturnya.

Dirinya juga mengaku, hasil olahan kerajinan tangan miliknya sempat ikut serta dalam pameran kerajinan tangan. “Waktu itu ada pameran kerajian, gerabah ini sempat diikutkan, tapi orang lain yang memesan disini kemudian mereka yang membawa ke pameran itu,” kata Ibu dua anak ini.

Meski hasil jual gerabah tidak begitu banyak, namun Ia bersyukur setidaknya bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Dirinya juga berharap, pemerintah dapat memperhatikan usahanya dengan memberikan bantuan agar produksinya lebih banyak dan bisa berkembang.

“Kalau ada pesanan paling banyak dalam satu minggu itu Rp 300 ribu. Yah Alhamdulillah bisa mencukupi kebutuhan kami keluarga. Pun selama ini pembuatannya masih secara manual, saya masih menggunakan tangan dalam membuat gerabah ini. Olehnya, saya berharap pemerintah dapat memberikan batuan berupa alat pembuat gerabah agar produksinya lebih banyak dan usaha kerajinan ini bisa berkembang luas.” Pungkasnya.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.