Home Internasional Ketahanan angkutan barang Eropa akan bergantung pada elektrifikasi

Ketahanan angkutan barang Eropa akan bergantung pada elektrifikasi

7
0


Ketergantungan Eropa pada bahan bakar fosil yang diimpor terus memaparkan perekonomiannya pada guncangan geopolitik dan ketidakstabilan harga energi. Elektrifikasi angkutan jalan raya dapat memperkuat ketahanan energi, daya saing industri, dan kemajuan iklim, namun hanya jika UE mengatasi risiko investasi, pembiayaan, dan fragmentasi pasar.

Ketegangan geopolitik yang kembali terjadi di Timur Tengah sekali lagi menyoroti ketidakamanan energi di Eropa. Meskipun ada upaya pemerintah untuk melindungi konsumen dan dunia usaha dari kenaikan biaya energi, setiap krisis menunjukkan kelemahan struktural yang sama: perekonomian Eropa, dan khususnya sistem transportasinya, masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil yang diimpor dan rentan terhadap volatilitas pasar minyak global.

Angkutan jalan raya menjadi pusat permasalahan ini. Kendaraan berat mengangkut sebagian besar barang di seluruh Eropa dan sebagian besar masih bergantung pada bahan bakar diesel. Akibatnya, setiap lonjakan harga minyak secara langsung berarti kenaikan biaya transportasi, melemahnya rantai pasokan, dan tekanan inflasi yang mengganggu stabilitas perekonomian secara keseluruhan dan melemahkan kedaulatan Eropa.

Untuk memutus siklus ketergantungan pada bahan bakar fosil, Eropa harus melipatgandakan upayanya dalam bidang elektrifikasi. Memang benar bahwa elektrifikasi, termasuk untuk transportasi jalan raya, tidak lagi sekadar solusi iklim, namun penting bagi ketahanan ekonomi dan keamanan energi Eropa. Seperti yang baru-baru ini ditunjukkan oleh Milence dengan konvoi truk listriknya yang melintasi salah satu koridor transportasi utama Eropa, transportasi jalan raya berlistrik bukanlah sebuah prospek yang jauh. Sebaliknya, teknologi sudah ada dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengembangkannya.

Kerangka kebijakan seperti Rencana Aksi Elektrifikasi Komisi Eropa berikutnya menawarkan peluang unik untuk memperkuat ketahanan dan daya saing jangka panjang. Dengan langkah-langkah yang tepat, Eropa dapat mengubah krisis menjadi sebuah peluang.

Meningkatnya kasus truk listrik

Solusi terhadap siklus ketergantungan terhadap bahan bakar fosil semakin mudah dijangkau. Truk listrik menjadi kompetitif secara ekonomi dengan truk diesel di semakin banyak Negara Anggota, termasuk untuk pengoperasian jarak jauh. Adopsi semakin cepat di pasar-pasar utama, dengan pangsa penjualan mencapai dua digit di beberapa negara dan mendekati 5% di seluruh UE.

Pada saat yang sama, jaringan pengisian daya Eropa mulai berkembang pesat. Hampir 2.000 stasiun pengisian truk listrik umum kini beroperasi di sepanjang koridor transportasi utama. Dari Barcelona hingga Lyon, Antwerpen hingga Stockholm, dan Paris hingga Berlin, koridor angkutan listrik bermunculan di seluruh benua. Angkutan truk listrik beralih dari proyek percontohan ke transportasi angkutan barang lintas batas yang operasional.

Yang lebih penting lagi, elektrifikasi menawarkan sesuatu yang tidak bisa ditawarkan oleh diesel: stabilitas harga jangka panjang yang lebih baik. Pasar ketenagalistrikan tidak kebal terhadap gejolak, namun pada dasarnya tidak terlalu rentan terhadap guncangan geopolitik dibandingkan pasar minyak dan sangat penting untuk memperkuat kedaulatan Eropa.

Tantangan politik

Tantangan bagi Eropa saat ini adalah menemukan cara terbaik untuk terus meningkatkan pertumbuhan truk listrik dan pusat pengisian daya.

Alih-alih sepenuhnya menerapkan elektrifikasi di tengah krisis energi, pemerintah justru mengambil langkah-langkah jangka pendek yang kontradiktif dan gagal memutus siklus ketergantungan pada bahan bakar fosil. Sebagai contoh, meskipun Jerman berinvestasi dalam infrastruktur pengisian daya untuk truk listrik, Jerman juga memperkenalkan keringanan pajak sementara untuk bahan bakar diesel. Demikian pula, ketika Perancis menerapkan program dukungan elektrifikasi yang ditargetkan, para pembuat kebijakan di Belanda mengurangi jumlah korban truk berikutnya sebelum program tersebut diterapkan.

Kebijakan yang menurunkan harga solar mungkin memberikan keringanan jangka pendek, namun berisiko menambah ketergantungan yang terus membuat Eropa rentan.

Eropa memerlukan kerangka kebijakan yang lebih baik yang dapat mengatasi permasalahan jangka pendek dan memitigasi risiko jangka panjang. Hal ini tidak akan mudah: membangun jaringan angkutan listrik Eropa akan memerlukan investasi lebih dari 10 miliar euro di tahun-tahun mendatang. Namun justru inilah sebabnya kerangka kebijakan, seperti Rencana Aksi Elektrifikasi Komisi Eropa berikutnya, tidak bisa hanya berfokus pada target dan ambisi. Mereka harus menghilangkan hambatan yang terus memperlambat penerapan infrastruktur pengisian daya.

Tantangan pertama adalah kepastian investasi. Operator infrastruktur pengisian daya didesak untuk berinvestasi miliaran dolar sebelum permintaan karena tingkat penggunaan masih tidak menentu selama fase pertama pertumbuhan pasar. Selama risiko ini masih terlalu tinggi, akses terhadap pembiayaan terjangkau dalam skala besar akan terbatas.

Oleh karena itu, rencana tersebut harus mencakup langkah-langkah untuk mengurangi risiko investasi infrastruktur pada tahap awal, mempercepat prosedur otorisasi dan meningkatkan proses koneksi jaringan di sepanjang koridor angkutan utama Eropa.

Tantangan kedua adalah pembiayaan kendaraan. Banyak perusahaan transportasi Eropa merupakan operator skala kecil dan menengah yang bekerja dengan margin rendah dan akses modal terbatas. Meskipun truk listrik sudah menawarkan total biaya operasional yang lebih rendah dari waktu ke waktu, investasi awal masih menjadi kendala utama.

Rencana tersebut harus mendukung instrumen pembiayaan yang stabil dan insentif kebijakan yang memungkinkan operator armada berinvestasi dengan lebih percaya diri. Penetapan harga karbon yang dapat diprediksi, program dukungan yang ditargetkan, dan sinyal peraturan jangka panjang yang jelas semuanya akan menjadi kunci untuk memperluas adopsi lebih dari sekedar penggerak awal.

Tantangan ketiga adalah fragmentasi. Pasar angkutan listrik Eropa masih belum berfungsi sebagai pasar tunggal yang sesungguhnya. Kesenjangan antara pionir dan lamban semakin besar seiring dengan perbedaan kerangka kebijakan nasional. Ketika truk listrik mendapat manfaat dari kondisi yang menguntungkan, penerapannya akan meningkat pesat; jika kondisi ini masih lemah, maka investasi akan melambat. Bagi sektor yang dibangun berdasarkan transportasi lintas batas, fragmentasi ini menciptakan ketidakpastian bagi operator, penyedia infrastruktur, dan produsen.

Oleh karena itu, para pembuat kebijakan harus memprioritaskan keselarasan yang lebih baik antar Negara Anggota, termasuk kerangka kerja tol berbasis CO2 yang konsisten, penggelaran infrastruktur yang terkoordinasi, dan implementasi yang ketat dari kerangka penetapan harga karbon UE di bawah ETS II.

Eropa sudah memiliki banyak alat yang diperlukan. Tantangannya bukan lagi mengidentifikasi solusi, namun menerapkan solusi tersebut secara koheren dan dalam skala yang memadai.

Jalan yang harus diikuti

Pertanyaannya sekarang adalah apakah Eropa dapat memanfaatkan periode yang ditandai oleh ketidakstabilan geopolitik, volatilitas energi, dan transisi industri untuk membangun perekonomian yang lebih kuat secara struktural. Apakah rencana aksi elektrifikasi selanjutnya akan mempercepat elektrifikasi angkutan barang? Atau akankah Eropa tetap menggunakan pendekatan nasional yang hanya bersifat tambal sulam dan mengirimkan sinyal-sinyal yang kontradiktif ke pasar?

Hal ini pada akhirnya merupakan ujian bagi kemampuan Eropa untuk mengubah krisis menjadi peluang dan tetap kompetitif secara ekonomi dalam beberapa dekade mendatang.

Ketahanan sejati tidak akan datang dari bahan bakar diesel yang lebih murah dan ramah lingkungan. Hal ini bisa dicapai dengan membangun sistem angkutan barang di Eropa yang semakin mengandalkan listrik dibandingkan bahan bakar fosil impor.

Koen Noyens adalah Kepala Urusan Masyarakat di Milence



Source link