Home Internasional Rencana komisi ad hoc untuk investigasi Mkhwanazi

Rencana komisi ad hoc untuk investigasi Mkhwanazi

12
0



Komite ad hoc mengadopsi peta jalan menuju finalisasi dan adopsi laporan tersebut sebagai bagian dari penyelidikan atas tuduhan yang dibuat oleh Komisaris Polisi KwaZulu-Natal Nhlanhla Mkhwanazi.

Hal ini setelah sekretariat panitia mengajukan proses dan jadwal panitia untuk meminta perpanjangan lagi guna menyelesaikan pekerjaannya, karena bisa memenuhi tenggat waktu Jumat, 12 Juni ini.

Pada pertemuannya pekan lalu, Penasihat Hukum Parlemen Andile Tetyana menyoroti tantangan yang dihadapi petugas bukti dalam menyelesaikan laporan ringkasan bukti mereka, yang berdampak besar pada kemajuan tahapan penyelidikan parlemen.

“Kami ingin panitia mempertimbangkan permohonan lain untuk memperpanjang batas waktu penyampaian laporan panitia ke DPR,” kata Tetyana.

Meski tidak dibahas, kecuali Tetyana yang mengaku siap dipimpin dan dibimbing panitia dalam mengajukan permohonan perpanjangan, penasehat konten panitia Nicolette van Zyl-Gous memaparkan roadmap panitia untuk menyelesaikan pekerjaannya pada Selasa malam.

“Tujuan dari proses yang diusulkan adalah untuk memastikan bahwa laporan akhir komite didasarkan pada catatan bukti, berdasarkan pertimbangan kolektif dan mampu menghasilkan temuan dan rekomendasi yang memperkuat akuntabilitas, tata kelola dan kepercayaan publik terhadap polisi dan sistem peradilan secara keseluruhan,” kata Van Zyl-Gous.

Panitia menerima laporan bukti tersebut pada Kamis lalu dan para pihak meminta waktu seminggu untuk mempelajarinya sebelum berdiskusi.

Presentasi tersebut menyatakan bahwa tim konten sekretariat komite akan mencatat permasalahan yang diangkat oleh anggota parlemen, mengidentifikasi bidang-bidang yang memerlukan pertimbangan lebih lanjut dan membantu dalam pengembangan temuan dan rekomendasi yang timbul dari kesaksian yang disampaikan kepada komite.

Van Zyl mengatakan ada dokumen yang disiapkan oleh tim konten mengenai masalah tata kelola struktural dan keharusan reformasi di kepolisian dan sistem peradilan pidana.

Dia mengatakan pembahasan laporan tersebut dijadwalkan dalam lima tahap yang mencakup 9 Juni hingga 16 Juli.

“Proses dan jadwal yang diusulkan bersifat indikatif dan dapat disesuaikan oleh panitia berdasarkan kemajuan yang dicapai selama musyawarah,” ujarnya.

Van Zyl-Gous juga mengatakan finalisasi diharapkan pada 16 Juli dan sekitar delapan pertemuan direncanakan.

“Jika terdapat pertimbangan tambahan atau persyaratan prosedural, penyelesaian dapat diperpanjang hingga 31 Juli 2026. Batas waktu yang diusulkan mencakup waktu penyusunan dan hak tanggapan bagi mereka yang terkena dampak.”

Tahap pertama akan fokus pada penetapan bukti kasus dan metodologi.

Hal ini dimulai dengan penetapan jadwal pelaporan pada Selasa malam dan akan dilanjutkan dengan lokakarya mengenai pengawasan dan mandat komite pada Rabu malam serta diskusi mengenai tinjauan bukti dan pengenalan struktur laporan awal.

Hal ini akan diikuti dengan penilaian terhadap bukti-bukti saat komite mulai mengerjakan rancangan laporan komite, mengadakan kesaksian dan pembahasan mengenai tujuh tema pada tanggal 11-18 Juni.

Sebagai bagian dari fase ketiga, tim konten akan menyusun temuan dan rekomendasi serta menyusun laporan yang dikirimkan kepada anggota parlemen antara tanggal 19 dan 24 Juni.

Draf laporan tersebut diharapkan dapat dikirimkan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam waktu dua minggu, mulai 25 Juni hingga 8 Juli.

Setelah representasi dari mereka yang terkena dampak ditinjau pada tanggal 10 Juli, laporan akhir akan diselesaikan dan diadopsi pada tanggal 16 Juli.

Tidak ada diskusi mengenai jadwal yang diusulkan, karena para pihak tidak mengangkat masalah apa pun.

Mengakhiri pertemuan, ketua panitia, Soviet Lekganyane, mengatakan bahwa jadwal tersebut telah diterima dan diadopsi oleh panitia.

“Akan ada lokakarya (Rabu) tentang prinsip-prinsip yang harus kita terapkan saat melihat laporan,” kata Lekganyane.

(dilindungi email)



Source link