Home Bisnis Mengapa banyak siswa cerdas yang pingsan?

Mengapa banyak siswa cerdas yang pingsan?

7
0


Kesuksesan akademis saja tidak cukup. Cari tahu mengapa ketahanan, kesejahteraan, dan kecerdasan emosional sangat penting untuk sukses di perguruan tinggi.

Bagi banyak keluarga ekspatriat di Indonesia, perjalanan kuliah dimulai jauh sebelum hari kelulusan. Percakapan tentang prediksi nilai, skor SAT, lamaran Oxbridge, jalur Ivy League, dan penerimaan kompetitif sering kali mendominasi masa remaja. Tentu saja, keunggulan akademis itu penting. Namun semakin banyak penelitian global yang mengungkap kebenaran yang baru mulai dipahami oleh banyak orang tua.

Siswa yang paling mungkin berhasil di perguruan tinggi bukan hanya mereka yang mendapat nilai terbaik. Mereka adalah mereka yang memiliki ketahanan emosional, terhubung secara sosial, siap secara psikologis dan mampu menangani tekanan nyata dalam hidup mandiri.

mahasiswa BSJ

Hal ini sangat penting bagi siswa internasional. Banyak anak muda yang mengenyam pendidikan di Indonesia meninggalkan negaranya pada usia 18 tahun untuk belajar di luar negeri di Inggris (UK), Amerika Serikat (AS), Australia, Eropa atau Asia. Untuk pertama kalinya, mereka menjalani masa dewasa tanpa sistem dukungan dekat yang selama ini mereka kenal: keluarga, pembantu rumah tangga, struktur sekolah, dan komunitas yang mereka kenal.

Dan kenyataannya bisa jadi sangat menantang.

Menurut Inisiatif Mahasiswa Perguruan Tinggi Internasional Kesehatan Mental Dunia yang dipimpin oleh Harvard, transisi ke perguruan tinggi bertepatan dengan salah satu masa paling rentan dalam kehidupan anak muda dalam hal kecemasan, depresi, dan masalah kesehatan mental lainnya.

Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa kecerdasan emosional, ketahanan, dan keterhubungan sosial adalah beberapa prediktor terbaik untuk penyesuaian dan ketekunan di perguruan tinggi. Dengan kata lain, siswa yang mampu mengatur emosinya, membina hubungan, meminta bantuan, dan bangkit dari kegagalan jauh lebih besar kemungkinannya untuk berhasil dibandingkan siswa yang hanya mengandalkan kemampuan akademisnya.

Kelas 13 Hari terakhir sekolah

Krisis tersembunyi di balik penerimaan universitas

Secara global, semakin banyak siswa yang memasuki universitas bergengsi. Namun universitas-universitas sendiri sudah memperingatkan akan memburuknya kesejahteraan mahasiswa.

Studi dari Inggris menyoroti bahwa siswa tahun pertama adalah salah satu kelompok yang paling rentan, menghadapi stres berat terkait transisi, kesepian, tekanan akademis, dan perubahan identitas. University College London (UCL), salah satu universitas terkemuka di Inggris, telah secara terbuka berinvestasi dalam “pendekatan universitas secara menyeluruh” terhadap kesehatan mental karena kesejahteraan mahasiswa telah menjadi isu yang krusial.

Pusat Universitas

Penelitian juga menunjukkan bahwa kecerdasan emosional berperan sebagai faktor pelindung terhadap kelelahan dan putus sekolah.

Di Indonesia, pembicaraan ini menjadi semakin mendesak. Penelitian terbaru terhadap mahasiswa di Indonesia menemukan adanya peningkatan tingkat tekanan mental, ketegangan emosional, dan masalah psikososial di kalangan mahasiswa. Studi internasional lainnya menemukan bahwa meskipun pelajar Indonesia yang belajar di luar negeri pada umumnya menikmati pengalaman mereka, dukungan kesehatan mental masih menjadi salah satu kebutuhan terbesar yang belum terpenuhi.

Pesannya jelas: masuk perguruan tinggi bukan lagi sebuah tujuan akhir. Tetap sehat setelah siswa tiba di sana dapat menjadi tantangan terbesar.

Mempersiapkan siswa untuk kehidupan universitas

Mempersiapkan siswa untuk hidup, bukan hanya aplikasi

Di British School Jakarta (BSJ), pemahaman ini secara mendasar telah membentuk pendekatan terhadap kesejahteraan.

Daripada memperlakukan kesehatan sebagai “tambahan”, BSJ telah mengintegrasikan kesehatan melalui pendekatan sistem yang secara eksplisit memprioritaskan ketahanan emosional, rasa memiliki, kesadaran diri, dan kesiapan psikologis, serta keberhasilan akademis sepanjang perjalanan pendidikan siswa.

Baru-baru ini, Nara, salah satu siswa Kelas 13 kami yang bersemangat, dan saya berpidato di depan kelompok Kelas 13 di salah satu pertemuan pra-kelulusan terakhir mereka, dengan fokus sepenuhnya pada realitas kesejahteraan akademis dan kesehatan mental.

Andrea Downie (kiri) dan Nara (kanan)

Presentasi tersebut menantang banyak asumsi umum yang dimiliki mahasiswa tentang kehidupan kampus. Siswa mengeksplorasi penelitian yang menunjukkan bahwa:

  • Lebih dari 60% mahasiswa melaporkan merasakan kecemasan yang luar biasa;
  • Sekitar 30 hingga 40 persen dari mereka mengalami gejala depresi saat kuliah;
  • Mahasiswa baru sering kali merupakan kelompok yang paling stres karena transisi, kesepian, dan tekanan akademis;
  • Kurang tidur adalah salah satu prediktor utama masalah kesehatan mental di kalangan mahasiswa.

Pertemuan ini dirancang untuk meningkatkan pembelajaran yang telah mereka peroleh selama berada di YSB dan menormalkan percakapan seputar kesejahteraan sambil terus membekali mereka dengan kesadaran praktis sebelum meninggalkan rumah.

Pola pikir proaktif ini sangat penting.

Siswa yang berjuang di perguruan tinggi seringkali tidak kekurangan kecerdasan; sebaliknya, mereka kurang persiapan menghadapi realitas emosional kemandirian, seperti menghadapi kegagalan untuk pertama kalinya, menjalin persahabatan baru, mengelola kesepian, menavigasi identitas, menyeimbangkan kebebasan dan tanggung jawab, meminta bantuan, dan menjaga rutinitas yang sehat tanpa pengawasan orang tua.

Ini adalah keterampilan kesejahteraan, bukan hasil akademis, namun hal ini semakin menentukan keberhasilan siswa.

Artikel ini ditulis oleh Andrea Downie, Kepala Kesejahteraan di British School Jakarta dan Anggota Kehormatan di Universitas Melbourne.





Source link