Home Bisnis Kunjungan wisman ke Indonesia meningkat 8,24%

Kunjungan wisman ke Indonesia meningkat 8,24%

9
0


Sektor pariwisata Indonesia mencatatkan kinerja yang kuat pada kuartal pertama tahun 2026, dengan perolehan devisa pariwisata mencapai US$4,05 miliar (sekitar Rp 68,28 triliun), meningkat 6,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kepala Badan Perhubungan Pemerintah Indonesia, Muhammad Qodari, mengungkapkan peningkatan penerimaan devisa disebabkan oleh peningkatan kunjungan pengunjung internasional, ditambah dengan tingginya pengeluaran wisatawan selama berada di Indonesia.

“Peningkatan kunjungan pengunjung yang dibarengi dengan peningkatan belanja pariwisata turut mendorong tumbuhnya penerimaan devisa dari pariwisata,” kata Qodari kepada wartawan, Rabu (17/6).

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata RI hingga Minggu, 14 Juni, Indonesia menerima 4,68 juta pengunjung internasional pada Januari hingga April 2026. Jumlah ini meningkat 8,24% dibandingkan 4,33 juta kunjungan pada periode yang sama tahun 2025.

Selain peningkatan pengunjung, rata-rata pengeluaran pariwisata juga meningkat. Selama kuartal pertama tahun 2026, setiap pengunjung internasional menghabiskan rata-rata US$1.345,61 (sekitar Rp 22,68 juta) per kunjungan. Jumlah ini meningkat sebesar 5,36 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ketika rata-rata pengeluaran sebesar US$1.277,17 (sekitar Rp 20,89 juta) per kunjungan.

Gabungan pertumbuhan kunjungan pengunjung dan pengeluaran per pengunjung memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan devisa pariwisata Indonesia yang mencapai US$4,05 miliar (Rp 68,28 triliun) pada kuartal I tahun 2026. Angka ini meningkat 6,3 persen dari US$3,81 miliar (sekitar Rp 62,29 triliun) yang tercatat pada kuartal I tahun 2025.

Qodari menambahkan, sektor pariwisata Indonesia telah menunjukkan ketahanan dengan mempertahankan pertumbuhan meskipun terjadi ketegangan geopolitik global dan ketidakpastian ekonomi.

“Pertumbuhan ini tetap bertahan meskipun terjadi dinamika geopolitik global dan ketidakpastian perekonomian. Hal ini didukung oleh strategi pemasaran adaptif yang berfokus pada optimalisasi pasar jarak pendek dan menengah,” ujarnya.





Source link