Pewarta Abal-abal, Antara Hoax vs Fakta!

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Wartabolmong.news – Hampir sepekan ini saya mengamati status akun media sosial (medsos) facebook milik seseorang yang katanya jurnalis juga. Terlihat akun ini dengan gagah berani menuliskan berbagai status berbau dugaan ini, itu, begini, begitu. Bahkan, sebagian besar isi status yang ditulis di akun facebook ini, menyerang profesi kewartawanan tanpa ada arah dan tujuan. Pokoknya saya harus katakan, ini akun statusnya kocar-kacir deh!
 
Anehnya, pemilik akun ini berani membubuhi nama seorang pejabat atau pun pimpinan suatu lembaga. Mungkin dia berkeinginan agar mendapat like, super dan peduli, bahkan pujian dari akun yang berteman denganya. Saya beranggapan ini cara lama yang masih tersisa dijaman keterbukaan informasi publik.
 
Saya bahkan sampai saat ini belum menemukan jawaban yang tepat untuk dialamatkan kepada pemilik akun ini. Bahkan, sempat mengundang tanya di benak, kenapa? apa? terus tujuan yang ia lakukan dibalik status berseliweran itu sebenarnya mau cari apa?
 
Sedikit saya memberanikan diri menyimpulkan. Meski nilai objektifitas pemikiran saya yang masih jurnalis pemula, katakan jurnalis kelas tome-tome ini, perlu diuji lewat analisis pemikiran rasional. Dugaan saya, si pemilik akun koar-koar ini ingin mencari panggung semata dengan memanfaatkan nama besar dari oknum tertentu agar dirinya bisa di sandingkan dengan para senior dalam dunia jurnalistik. Begitu pikir saya sampai saat ini.
 
Bukan ingin menyandingkan kualitas, menurut saya pribadi (pemula dan tome-tome), setiap membaca postingan akun ini yang melewati beranda facebook saya, ternyata kocak dan sangat sulit untuk dipahami. Mulai dari tulisan dalam status yang menyudutkan hingga menuduh langsung tanpa ada bukti. Atau pun keputusan resmi dari pihak berwajib sebagai sandaran utama dalam mengantongi informasi. Saya pastikan akun ini hanya menerima sepenggal informasi, bisa jadi hanya satu kuping, entah itu kuping kiri atau kanan, kemudian diterima dengan begitu saja. Tanpa melakukan kroscek, verifikasi, konfirmasi kepada objek.  
 
Bagi saya, hal ini bertolak belakang dengan kode etik jurnalistik. Jika mengaku jurnalis, menulislah di media. Bukan di akun facebook kawan!
 
Anehnya, setiap objek yang diangkat dalam status akun ini, seperti tidak diberikan ruang untuk melakukan klarifikasi, hak jawab dan hak koreksi. Padahal, akunya jelas diberinama jurnalis ***%%&&####… Begitu nama akunya.
 
Saya sebagai jurnalis tome-tome, pemula juga, menilai tindakan dari pemilik akun facebook itu bisa berdampak pada reputasi pers. Karena, dengan nama akun yang memakai kata jurnalis, tentu setiap postinganya, meski itu di facebook, akan menimbulkan ragam penilaian warganet.
 
Masyarakat khalayak tidak dapat lagi membedakan mana yang hoax dan fakta lapangan, mana karya jurnalistik dan mana status abal-abal. Mungkin sebaiknya pemilik akun ini diberi kesempatan meliput langsung di daerah konflik. Nah, dengan begitu, kualitasnya akan terlihat. Bisa meliput, bisa menulis atau hanya bisa berkoar-koar seperti dalam status facebook.
 
Berani saya menduga, jika si pemilik akun ini terjun ke daerah konflik untuk meliput, justru dia yang akan menjadi penyulut.
 
Begini saja, saya tidak akan panjang lebar lagi menulis agar saya tidak sama dengan pemilik akun koar-koar itu. Tulisan ini sedikit bernuansa cerpen, namun pasti akan berlanjut. Karena, tulisan saat ini hanya sebatas curhatan semata dari saya jurnalis pemula alias tome-tome.
 
Jika ada kesamaan waktu, tempat peran dan alur kisah di dalam tulisan ini, saya atas nama pribadi menyampaikan permohonan maaf dengan sebesar-besarnya. Bagi yang tersinggung tidak mengapa membalas tulisan saya ini. Saya tunggu! Tulisan ya, bukan status di akun facebook.
 
Gian Gumogar

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.