
Beberapa minggu terakhir terdapat gelombang video menyesatkan dan palsu yang beredar di media sosial di Afrika Selatan, banyak di antaranya terkait dengan meningkatnya ketegangan seputar imigrasi ilegal.
Beberapa dari klip ini kemudian dibantah, namun sebelumnya memicu kemarahan, kebingungan, dan permusuhan baru di dunia maya.
Pejabat penegak hukum mengatakan tren ini menjadi semakin berbahaya, dan memperingatkan bahwa konten yang tidak diverifikasi akan memicu kepanikan dan mengobarkan perdebatan yang sudah sensitif.
Insiden terbaru melibatkan video yang beredar online yang mengklaim warga negara asing menyerang warga Afrika Selatan di Mayfair, Johannesburg. Polisi Gauteng sejak itu mengonfirmasi bahwa rekaman itu sudah lama dan direkam saat protes anti penjarahan pada tahun 2021, bukan kejadian terkini.
“Berbagi konten yang tidak terverifikasi akan memicu kepanikan publik, dapat memicu kekerasan dan semakin melemahkan upaya pemerintah dan penegak hukum untuk menjaga perdamaian dan menegakkan hukum,” kata SAPS.
Polisi mendesak masyarakat untuk memverifikasi informasi sebelum membagikannya, dan memperingatkan bahwa informasi yang salah menyebar dengan cepat di media sosial dan dapat meningkatkan ketegangan yang tidak perlu. Pihak berwenang juga mengingatkan masyarakat bahwa segala aktivitas kriminal harus dilaporkan melalui saluran resmi kepolisian daripada disiarkan secara online.
Peringatan ini muncul sebagai bagian dari upaya klarifikasi nasional dan diplomatik yang lebih luas menyusul tuduhan terkait isu xenofobia.
Menteri Hubungan Internasional Ronald Lamola baru-baru ini berbicara dengan Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus menyusul kekhawatiran yang muncul atas tuduhan serangan xenofobia di Afrika Selatan.
Selama pertemuan tersebut, pemerintah membantah beberapa klaim yang beredar secara internasional, dengan mengatakan bahwa angka yang dilaporkan telah menyimpang dan, dalam beberapa kasus, tidak akurat.
“Pemerintah Afrika Selatan mengutuk keras insiden kekerasan tersebut. Insiden ini tidak mencerminkan nilai atau posisi pemerintah dan rakyatnya. Mereka yang bertanggung jawab akan menghadapi hukuman hukum penuh,” kata Lamola.
Dia menambahkan bahwa migrasi tidak teratur masih menjadi tantangan bagi negara ini, namun menekankan bahwa hal ini harus ditangani “secara manusiawi dan sesuai kerangka hukum”, dan memperingatkan terhadap individu atau kelompok yang mengeksploitasi ketegangan migrasi untuk tujuan politik atau kriminal.
Pihak berwenang mengatakan penyebaran disinformasi di dalam negeri dan berita palsu secara internasional berisiko memperdalam ketidakpercayaan, dan menyerukan pengendalian diri, verifikasi, dan penggunaan media sosial secara bertanggung jawab.
Bintang Sabtu


















