
Pemerintah Afrika Selatan telah meluncurkan apa yang mereka sebut sebagai “Pendekatan Komprehensif terhadap Manajemen Migrasi”, sebuah rencana untuk memperkuat keamanan perbatasan, menindak imigrasi ilegal dan merombak sebagian sistem imigrasi negara tersebut.
Presiden Cyril Ramaphosa pekan lalu mengumumkan strategi tersebut, yang menggabungkan penegakan hukum yang lebih ketat, teknologi baru, reformasi kebijakan dan kerja sama regional, sebagai respons pemerintah terhadap meningkatnya kekhawatiran masyarakat mengenai imigrasi ilegal, korupsi dan tekanan terhadap layanan publik.
Namun apa sebenarnya yang berubah dan mengapa pemerintah menganggap langkah-langkah ini perlu?
Mengapa pemerintah mengatakan diperlukan tindakan
Menurut pemerintah, migrasi ilegal kini terkait dengan beberapa tantangan besar yang dihadapi negara ini, termasuk kejahatan terorganisir, pelanggaran undang-undang ketenagakerjaan, pencurian identitas, dan korupsi di lembaga-lembaga publik.
Pihak berwenang mengatakan kelemahan dalam sistem imigrasi telah mempermudah sindikat kriminal untuk mengeksploitasi celah, mendapatkan dokumen palsu dan menyelundupkan orang melintasi perbatasan.
Pemerintah juga mengatakan banyak masyarakat merasa frustrasi dengan persaingan untuk mendapatkan pekerjaan, tekanan terhadap sistem kesehatan dan perumahan serta kekhawatiran akan kejahatan, meskipun para ahli telah berulang kali memperingatkan agar tidak menyalahkan migran atas masalah sosial dan ekonomi di Afrika Selatan.
Strategi baru ini bertujuan untuk menyeimbangkan penegakan hukum yang lebih ketat dengan perlindungan konstitusional dan diplomasi regional.
Lima pilar rencana
Pendekatan baru pemerintah disusun berdasarkan lima bidang intervensi utama.
1. Kontrol dan pengusiran yang lebih ketat
Salah satu perubahan yang paling cepat adalah intensifikasi operasi yang menargetkan warga negara asing tidak berdokumen yang tinggal secara ilegal di Afrika Selatan.
Departemen Dalam Negeri, Otoritas Manajemen Perbatasan (BMA), Kepolisian Afrika Selatan dan lembaga-lembaga lainnya diharapkan meningkatkan pemeriksaan, penangkapan dan deportasi.
Pemerintah juga berencana membentuk pengadilan imigrasi khusus untuk mempercepat prosedur hukum terkait deportasi dan pelanggaran terkait imigrasi.
Para pejabat mengatakan pengadilan khusus dapat mengurangi tumpukan kasus dan membuat penegakan hukum menjadi lebih cepat dan efektif.
2. Penguatan pengawasan perbatasan
Pemerintah mengatakan mencegah masuknya orang ilegal adalah inti dari strategi baru ini.
Presiden Ramaphosa telah mengungkapkan bahwa lebih dari 450.000 upaya penyeberangan perbatasan ilegal telah dicegat dalam satu tahun terakhir, hal ini menyoroti besarnya tekanan terhadap perbatasan Afrika Selatan.
Pihak berwenang berencana untuk berinvestasi lebih banyak dalam teknologi pengawasan, infrastruktur perbatasan, dan personel.
Strategi tersebut juga mencakup proposal kontroversial untuk secara bertahap memindahkan pusat penerimaan pengungsi lebih dekat ke pos perbatasan, dimulai dari pusat pengungsi Tshwane.
Para pendukung berpendapat bahwa hal ini dapat meningkatkan proses dan mengurangi penyalahgunaan sistem suaka, sementara para kritikus mungkin menyatakan kekhawatiran mengenai akses terhadap perlindungan hukum dan layanan kemanusiaan bagi pencari suaka yang sudah berada di negara tersebut.
3. Menindak korupsi dan penipuan
Sebagian besar rencana tersebut menargetkan korupsi di Kementerian Dalam Negeri.
Pemerintah mengatakan pejabat korup yang menjual dokumen, memfasilitasi masuk secara ilegal atau memanipulasi sistem imigrasi mendorong migrasi tidak berdokumen dan kejahatan terorganisir.
Pejabat yang terlibat korupsi bisa dipecat dan menghadapi tuntutan pidana.
Pemerintah juga berencana untuk memodernisasi sistem identitas dengan daftar populasi cerdas yang berisi informasi biometrik untuk semua orang di negara tersebut.
Sistem ini merupakan bagian dari pergerakan yang lebih luas menuju sistem identifikasi digital.
Pada saat yang sama, penghapusan buku tanda pengenal berkode hijau yang telah lama dilakukan di Afrika Selatan diperkirakan akan semakin cepat.
Pemerintah menilai buku identitas hijau masih rentan terhadap penipuan, pencurian identitas, dan pemalsuan dokumen.
Kementerian Dalam Negeri diharapkan mengumumkan batas waktu setelah buku tanda pengenal hijau tidak lagi diterima sebagai tanda pengenal yang sah.
4. Menutup kesenjangan hukum
Pemerintah mengakui bahwa undang-undang imigrasi Afrika Selatan terfragmentasi dan terkadang kontradiktif.
Pihak berwenang mengatakan celah ini sering dieksploitasi oleh migran tidak berdokumen dan sindikat kriminal.
Sebagai bagian dari reformasi, beberapa undang-undang dan peraturan dapat diubah untuk menyelaraskan peraturan imigrasi, manajemen identitas dan transportasi.
Salah satu contohnya adalah Nomor Registrasi Lalu Lintas (TRN) yang dapat digunakan oleh warga negara asing untuk keperluan STNK.
Pemerintah mengatakan sistem TRN semakin banyak digunakan sebagai mekanisme identifikasi tidak resmi, sehingga menciptakan celah dalam sistem.
Peraturan baru diharapkan keluar dari Kementerian Perhubungan dalam beberapa bulan mendatang.
5. Bekerja sama dengan negara-negara Afrika lainnya
Pilar terakhir berfokus pada diplomasi dan kerja sama regional.
Pemerintah mengatakan tekanan migrasi tidak dapat diselesaikan melalui penegakan hukum saja, karena ketidakstabilan ekonomi, konflik, pengangguran dan masalah pemerintahan di beberapa wilayah di benua ini terus mendorong migrasi.
Presiden Ramaphosa mengatakan Afrika Selatan akan berinteraksi dengan negara-negara Afrika lainnya dan mengirimkan utusan untuk menjelaskan langkah-langkah baru tersebut.
Pemerintah berpendapat bahwa solusi jangka panjang bergantung pada peningkatan stabilitas dan peluang ekonomi di seluruh benua.
Mengapa rencana tersebut bisa memicu perdebatan
Meskipun sebagian warga Afrika Selatan menginginkan kontrol imigrasi yang lebih ketat, strategi ini dapat memicu perdebatan di kalangan kelompok masyarakat sipil, pengacara imigrasi, dan organisasi hak asasi manusia.
Kritikus mungkin mempertanyakan apakah peningkatan pengusiran dan kebijakan perbatasan yang lebih ketat dapat menyebabkan penyalahgunaan, pembuatan profil, atau pelanggaran terhadap perlindungan suaka.
Pihak lain mungkin mempertanyakan apakah pemerintah mempunyai kapasitas administratif untuk melaksanakan rencana tersebut secara efektif, terutama mengingat adanya permasalahan simpanan dan korupsi di Kementerian Dalam Negeri.
Pertanyaan juga mungkin akan muncul mengenai bagaimana penghapusan kartu identitas ramah lingkungan akan berdampak pada masyarakat rentan di Afrika Selatan yang masih bergantung pada sistem dokumen lama.
Untuk saat ini, pemerintah mengatakan Kabinet akan terus memantau penerapan strategi tersebut dan memberikan informasi terkini mengenai implementasinya dalam beberapa bulan mendatang.
IOL


















