DENPASAR, Bali – Hampir tujuh juta wisatawan yang berkunjung ke Bali memesan perjalanan mereka melalui agen perjalanan pada tahun 2025, hal ini menunjukkan peran agen perjalanan yang terus berlanjut dalam industri pariwisata di pulau tersebut meskipun platform pemesanan online semakin populer.
Menurut Asosiasi Agen Perjalanan dan Perjalanan Indonesia (ASITA) cabang Bali, 6,9 juta wisatawan mengandalkan agen perjalanan untuk mengunjungi pulau ini pada tahun 2025. Angka ini menandai peningkatan yang stabil dari 6,3 juta pada tahun 2024 dan 5,3 juta pada tahun 2023, sementara 2,1 juta wisatawan mengandalkan agen perjalanan pada tahun 2022 seiring dengan terus berkembangnya industri pariwisata Bali. pulih dari pandemi COVID-19.
Antara bulan Januari dan April 2026 saja, sekitar dua juta wisatawan telah tiba di Bali melalui agen perjalanan, hal ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap layanan paket wisata tetap kuat tahun ini.
Presiden ASITA Bali I Putu Winastra mengatakan agen perjalanan menyumbang sekitar 65% dari kedatangan wisatawan internasional di Bali pada tahun 2025. Ia mengatakan angka tersebut mencerminkan kepercayaan pengunjung asing yang terus berlanjut terhadap agen perjalanan.
Untuk mempertahankan momentum ini, perusahaan perjalanan mengembangkan paket perjalanan yang lebih beragam dan berkualitas tinggi, yang dirancang untuk menawarkan pengalaman baru, terutama bagi pengunjung berulang yang ingin menjelajah lebih jauh dari tempat-tempat wisata terkenal di Bali.
Salah satu inisiatif utama ASITA adalah mempromosikan desa wisata yang menampilkan warisan budaya, gaya hidup tradisional, dan keindahan alam Bali. Winastra mengatakan, mengintegrasikan destinasi-destinasi tersebut ke dalam rencana perjalanan internasional dapat membantu menciptakan lapangan kerja dan menghasilkan peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal.
Asosiasi juga mendorong pengunjung untuk menjelajahi Bali bagian utara, termasuk Kabupaten Buleleng, sebagai bagian dari upaya pemerataan pariwisata di seluruh pulau. Namun, Winastra mengakui waktu perjalanan yang lebih lama dan terbatasnya pilihan akomodasi masih menjadi tantangan bagi pengembangan pariwisata di wilayah tersebut.
Ia menambahkan, membangun industri pariwisata yang lebih berkualitas memerlukan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha pariwisata, usaha kecil dan menengah, serta masyarakat lokal.
“Pariwisata berkualitas bukan hanya tanggung jawab pemerintah: ini adalah ekosistem yang mengharuskan semua orang bekerja sama,” kata Winastra.
Penafian: Meskipun segala upaya telah dilakukan untuk memastikan keakuratannya, artikel ini mungkin mengandung sedikit ketidakakuratan dalam nama, lokasi, atau detail acara. Pembaca dipersilakan menghubungi tim redaksi untuk klarifikasi lebih lanjut.


















