Home Internasional Hollywood Masih Ada Dimana-mana, Tapi Asia Tak Lagi Sekadar Menonton

Hollywood Masih Ada Dimana-mana, Tapi Asia Tak Lagi Sekadar Menonton

6
0


Hollywood tidak mengalami keruntuhan: film-film Amerika masih mendominasi layar global, membentuk imajinasi populer, dan tetap menjadi salah satu instrumen soft power Amerika yang paling kuat. Namun dominasi Hollywood tidak lagi terbantahkan seperti dulu. Asia, yang selama ini dipandang sebagai pasar ekspor budaya Amerika, kini semakin membentuk lanskap budaya global.

Selama tiga dekade terakhir, Hollywood semakin bergantung pada pasar internasional. Sekilas data pendapatan tahun 2024 memberi tahu Anda semua yang perlu Anda ketahui tentang siapa yang sebenarnya menjalankan industri film saat ini. Dengan pasar internasional yang kini menyumbang lebih dari 70% pendapatan, penonton asing menjadi mustahil untuk diabaikan oleh studio-studio besar Amerika. Tentu saja, bantuan finansial ini disertai dengan ikatan yang serius. Hollywood terus-menerus melakukan proses negosiasi budaya, secara teratur mengubah narasinya dan melunakkan sisi politiknya hanya untuk memastikan sebuah film benar-benar dirilis di luar negeri.

Di sinilah batasan soft power Amerika mulai terlihat. Selama beberapa dekade, Hollywood berfungsi secara efektif karena tidak terlihat seperti propaganda negara. Dia menjual nilai-nilai Amerika melalui hiburan: kebebasan individu, kepahlawanan, patriotisme, dan impian Amerika. Film seperti karya sutradara Inggris Tony Scott Senjata Teratas (1987) dan aktor dan pembuat film Amerika Sylvester Stallone. Rambo (2008) memproyeksikan kepercayaan diri militer dan superioritas Amerika, sementara banyak film biografi Hollywood yang mempromosikan keyakinan bahwa perjuangan pribadi, disiplin, dan bakat dapat membawa kesuksesan.

Ada suatu masa ketika Hollywood mengekspor cita-cita budaya ini dengan keyakinan yang luar biasa. Arus satu arah ini kurang aman saat ini. Dengan pasar internasional yang kini menentukan pendapatan box office, studio terpaksa terlibat dalam permainan negosiasi budaya yang lebih rumit. Mereka tidak bisa begitu saja memproyeksikan cita-cita Amerika tanpa penyesuaian. Globalisasi, yang pernah memperluas jangkauan soft power Amerika, kini juga melemahkannya dengan memaksa Hollywood untuk berkompromi dengan dunia yang ingin mereka pengaruhi.

Kebangkitan Asia sebagai kekuatan budaya

Asia telah menjadi bagian sentral dari perubahan ini. Kawasan ini tidak lagi sekadar menjadi tujuan film-film Hollywood. Ia juga menghasilkan narasi budaya, industri, dan normanya sendiri. Pangsa Hollywood dalam box office global telah turun dari 92% menjadi 66% selama dua dekade terakhir, seiring dengan bangkitnya industri film Asia, khususnya Tiongkok. Kesuksesan film animasi Tiongkok Ne Zha 2yang menghasilkan sekitar $2 miliar di seluruh dunia, menandakan lebih dari sekedar pertumbuhan komersial. Hal ini mencerminkan adanya perubahan tatanan budaya.

Asumsi lama bahwa hanya budaya Barat yang menentukan selera dunia semakin sulit dipertahankan. Saat ini, hiburan menjadi semakin multipolar. Sinema, televisi, musik, animasi, dan sastra Asia tidak lagi sekadar merespons Hollywood. Dalam banyak kasus, pencipta di kawasan ini menetapkan standar baru bagi budaya populer global.

Korea Selatan memberikan salah satu contoh paling jelas. Berkat “Gelombang Korea”, negara ini mengubah budaya populer menjadi alat diplomasi yang kuat. Pop Korea (K-pop), drama, film, fashion, makanan dan kosmetik kini beredar di seluruh dunia, tidak hanya membentuk selera konsumen tetapi juga persepsi terhadap Korea Selatan itu sendiri. Dunia menggambarkan Gelombang Korea telah “menaklukkan” planet ini, sebuah ungkapan yang menunjukkan sejauh mana budaya populer Korea Selatan telah berkembang.

Jepang memberikan contoh lain melalui anime. Negara ini semakin memandang anime dan manga sebagai bagian dari pengaruh budayanya di luar negeri Bloomberg menggambarkannya sebagai inti dari strategi soft power Jepang. Anime tidak hanya menghibur penonton global. Hal ini juga membentuk cara banyak orang membayangkan Jepang dan, lebih luas lagi, Asia.

Indonesia dan cerita lokal

Indonesia menghadirkan kasus yang berbeda namun sama pentingnya dalam pergeseran global ini. Pembuat film lokal mungkin tidak mampu bersaing dengan Hollywood dalam hal efek visual atau anggaran produksi, namun mereka tidak perlu melakukannya. Alih-alih meniru film laris Barat, industri dalam negeri justru menemukan kekuatan dalam kisah-kisah yang tidak bisa ditiru oleh studio asing: ketakutan Indonesia, humor, ketegangan keluarga, kegelisahan agama, dan realitas sosial sehari-hari.

Film dalam negeri telah menguasai sekitar 60% pasar film Indonesia dan menarik lebih dari 80 juta penonton, sehingga memberikan tekanan nyata pada film-film impor, termasuk film-film produksi Hollywood. Angka-angka tersebut menunjukkan hal yang sederhana: masyarakat Indonesia tidak hanya mengharapkan apa yang datang dari luar. Mereka juga menginginkan cerita yang terdengar familier, dekat dengan mereka, dan sesuai dengan kehidupan mereka sebenarnya. Dalam artian, menonton film lokal bukan sekadar hiburan. Ini juga merupakan pertanyaan tentang pengakuan. Para pembuat film Indonesia tidak perlu menyerang Hollywood secara langsung untuk menantang posisinya di pasar.

Menurunnya dominasi budaya Amerika

Tiongkok telah memilih rute yang lebih langsung. Ketegangan geopolitik pada tahun 2025 memberikan contoh yang berguna. ulangers mencatat pada tahun 2025 bahwa Beijing mulai mengurangi impornya dari Hollywood sebagai respons terhadap kenaikan tarif AS. Pembalasan politik semacam ini memberikan tekanan nyata pada studio-studio Amerika di pasar yang ingin mereka pertahankan. Dikombinasikan dengan pertumbuhan industri film Tiongkok, kebijakan ini menunjukkan bagaimana kekuatan budaya semakin terkait dengan persaingan ekonomi dan geopolitik.

Karya sarjana Chua Beng Huat tentang budaya populer Asia Timur membantu menjelaskan transformasi yang lebih luas ini. Hallyu, pop Jepang (J-pop), drama Asia, dan sinema regional semuanya dapat diartikan sebagai tanda bahwa dominasi media Amerika tidak lagi dapat berjalan tanpa persaingan. Penonton Asia bukanlah penerima pasif budaya Amerika. Mereka memilih, menolak, menafsirkan ulang dan menghasilkan bentuk-bentuk alternatif budaya populer.

Soft power tidak lagi bersifat satu arah

Kekuatan lunak Hollywood belum hilang. Hal ini tetap berpengaruh, menguntungkan dan terlihat dalam skala global. Namun hal itu tidak lagi bersifat mutlak. Ketergantungan negara ini pada pasar internasional berarti negara ini harus semakin sering bernegosiasi dengan pihak-pihak yang selama ini mereka anggap dapat dipengaruhi oleh negara tersebut. Pada saat yang sama, Asia bukan lagi sekedar pasar. Dia menjadi produser budaya yang aktif.

Masa depan budaya populer global tidak hanya akan dibentuk oleh Hollywood. Hal ini akan dibentuk oleh negosiasi, kompetisi dan pertukaran antara beberapa pusat kebudayaan. Amerika Serikat masih menjadi kekuatan budaya yang besar, namun Amerika tidak lagi menjadi penentu perdebatan global. Asia semakin membantu menentukan cerita apa yang beredar, nilai-nilai apa yang relevan, dan bagaimana dunia mewakili dirinya sendiri.

(Kompasiane pertama kali menerbitkan versi artikel ini dalam bahasa Indonesia.)

(Rosa Messer Saya mengedit bagian ini)

Pendapat yang dikemukakan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Fair Observer.



Source link