
Dokter Naledi Pandor, ketua dewan Yayasan Nelson Mandela, menyerukan kepada warga dan komunitas Afrika Selatan untuk mengembangkan gelombang aksi sipil dan meminta pertanggungjawaban pemerintah atas isu-isu yang memerlukan perhatian segera.
Dr Pandor, mantan menteri pemerintah, menyampaikan pernyataan tersebut dalam percakapan kritis yang diselenggarakan baru-baru ini di Regent Business School di Cape Town, dengan tema: Pilihan etis di masa kerapuhan: peran Afrika Selatan dalam membentuk diplomasi global, pembangunan, dan kebangkitan negara-negara Selatan
Acara ini mempertemukan para pemimpin bisnis, akademisi, diplomat, alumni dan mahasiswa untuk berdiskusi mengenai etika, nilai-nilai, diplomasi dan sikap kebijakan luar negeri Afrika Selatan di era perubahan aliansi global, melemahnya multilateralisme dan meningkatnya kontestasi antar negara-negara kuat.
Pidato Dr. Pandor berfokus pada hubungan antara pilihan etis dan kepemimpinan yang bertanggung jawab, serta peran nilai-nilai dalam membentuk perilaku masa depan, lembaga publik, dan masyarakat. Beliau berpendapat bahwa ketidakpastian global tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab lokal dan masyarakat tidak boleh pasif dalam menghadapi tantangan sosial, politik dan pembangunan.
Merefleksikan bagaimana peristiwa-peristiwa internasional sering ditafsirkan melalui kacamata nasional yang sempit yang didorong oleh kepentingan dominasi dan kontrol, Dr Pandor menempatkan peran Afrika Selatan dalam lingkungan yang berubah ini dan menyoroti pentingnya diplomasi yang berprinsip seiring dengan semakin pentingnya negara-negara Selatan sebagai kekuatan dalam urusan dunia.
Diskusi ini juga mengeksplorasi bagaimana kepemimpinan etis, kewarganegaraan aktif, dan pengambilan keputusan berbasis nilai dapat berkontribusi pada masyarakat yang lebih bertanggung jawab. Pertanyaan-pertanyaan dari para hadirin mencerminkan kekhawatiran mengenai konflik global, kesenjangan dan terkikisnya kepercayaan terhadap lembaga-lembaga publik, serta perlunya Afrika Selatan menanggapi tekanan-tekanan internasional tanpa mengabaikan prioritas pembangunan nasional.
Mengomentari kedalaman dan relevansi diskusi tersebut, Profesor Ahmed Shaikh, Managing Director Regent Business School, mengatakan: “Pentingnya pembicaraan ini terletak pada keseriusan dan urgensinya. Hal ini menghubungkan ketidakstabilan global dengan pilihan etis yang dihadapi para pemimpin, lembaga, dan masyarakat setiap hari. Ini bukanlah perdebatan abstrak; hal ini membentuk arah moral masyarakat, kualitas kepemimpinan kita, dan tanggung jawab yang kita ambil untuk membentuk masa depan yang lebih adil dan bertanggung jawab.”
Shahiem Patel, Dekan Akademik Regent Business School, menambahkan: “Pidato Dr. Pandor mengingatkan kita bahwa pendidikan harus melakukan lebih dari sekedar mempersiapkan lulusan untuk bekerja. Pendidikan harus mempersiapkan orang untuk berpikir secara etis, bertindak secara bertanggung jawab, dan berkontribusi secara berarti kepada masyarakat, terutama di masa-masa yang rapuh dan penuh ketidakpastian ini.”
Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Percakapan Kritis Regent Business School, yang melaluinya lembaga ini menciptakan ruang untuk debat publik mengenai isu-isu nasional dan global yang memiliki relevansi langsung dengan kepemimpinan, politik, pendidikan, diplomasi, dan masyarakat.
TRIBUNE MINGGU















