
Polisi Western Cape telah mengkonfirmasi bahwa mereka sedang mencari pembunuh Nhlamulo Sambo, yang ditikam hingga tewas pada Minggu (31 Mei) di KwaNonqaba, Teluk Mossel.
Menurut juru bicara polisi Warrant Officer Christopher Spies, pria berusia 19 tahun itu ditikam setelah bertengkar dengan pria lain.
Mata-mata tersebut mengatakan polisi dipanggil ke tempat kejadian dan mereka menemukan remaja tersebut bersama luka tusukan di dada.
“Dia dinyatakan meninggal oleh layanan darurat di tempat kejadian. Tersangka melarikan diri. Dia belum ditangkap,” kata Spies.
Mata-mata tersebut menambahkan bahwa polisi masih menyelidiki keadaan seputar pembunuhan tersebut.
Sementara itu, keluarganya mengklaim remaja tersebut dibunuh selama kerusuhan yang diduga terkait dengan dugaan demonstrasi melawan warga negara asing.
“Mereka membunuh anak saya seperti seekor anjing dan mengatakan bahwa dia adalah orang asing, padahal anak saya adalah seorang Tsonga, seorang warga negara Afrika Selatan dari Limpopo hingga Giyani,” kata ibunya. Kata Nkateko Sambo dalam sebuah video.
Sang ibu juga meminta sumbangan untuk membawa putranya kembali ke Limpopo untuk dimakamkan.
“Saya sangat terluka dan kesakitan karena saya menganggur dan mereka membunuh anak saya dan saya harus membawa pulang anak saya untuk dimakamkan pada hari Sabtu,” katanya.
Di sebuah Di Facebook, Nonhlanhla Sambo miliknya mengatakan saudaranya diserang karena dia berbicara bahasa Xitsonga.
“Adik laki-laki saya yang berusia 19 tahun ditikam sampai mati pada tanggal 31 Mei saat kerusuhan/protes xenofobia di Western Cape Mossel Bay. Kesalahannya adalah menjadi seorang Tsonga di komunitas Xhosa. Kami sebagai keluarga sangat terluka atas tindakan tidak manusiawi ini; keadilan harus ditegakkan. Kami tidak akan tinggal diam,” tulisnya.
(dilindungi email)
Berita LIO


















