PLN Hanya Berasumsi, Pelanggan Lakukan Komplain Soal Tagihan Listrik Melonjak

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Kotamobagu,WB—Rahmat Gilalom, salah satu warga Desa Poyowa Besar I, Kecamatan Kotamobagu Selatan, Kota Kotamobagu Provinsi Sulawesi Utara, mendatangi kantor PLN UP3 Kotamobagu, Rabu (24/6) guna mencari tahu atas melonjaknya tagihan listik dikediamannya.

Pasalnya, rata-rata pembayaran tagihan listrik oleh Rahmat pada Tiga bulan sebelum hanya berkisar Rp 300-400 ribu perbulan. Namun, tagihan pada bulan Juni 2020 (penggunaan bulan Mei) naik tiga kali lipat dengan nilai bayar hingga Rp 1 juta lebih.

“Sebelumnya pada tiga bulan terakhir saya menunggak pembayaran dengan total bayar sekitar Rp 1,5 Juta, tetapi itu sudah dibayarkan. Okelah, kita berasumsi setiap bulannya berkisar Rp 500-an ribu, namun kenapa pada bulan Juni tagihannya bisa mencapai sejuta lebih,” sesal Rahmat.

Menanggapi hal tersebut, Manager PLN UP3 Kotamobagu Meyrina Turambi melalui Manager transaksi energi, Jonfi Ardianova menjelaskan kenapa tagihan listrik pelanggan melonjak.

“Jadi yang bulan Maret lalu dibayarkan pada bulan April, begitu juga dengan bulan Mei dibayar pada bulan Juni. Kemungkinan melonjaknya tagihan karena pemakaian listrik pelanggan naik,” ucapnya.

Ditanya terkait jika penggunaan pelanggan yang mengakibatkan nominal pembayaran tinggi, ia berasumsi penggunaan listrik selama bulan suci ramadhan meningkat.

“Tadi kita sudah lihat bersama konsumen, didata kami itu rata-rata pemakaian perbulan Rp 400 ribu sekian. Asumsi kami sementara karena di bulan puasa penggunaan listrik meningkat. Otomatis disaat sahur itu memakai tv, lampu, menyalakan penanak nasi listrik, pendingin dan lain sebagainya,” tuturnya.

Dikesempatan itu, konsumen juga mempertanyakan apakah penyebab melonjaknya tagihan listrik dikarenakan adanya kerusakan dimeteran listrik.

“Nanti kami akan cek langsung kekediaman pelanggan. Tapi saya pastikan kalau ada kerusakan Kwh meter, putarannya itu bukan semakin cepat melainkan semakin lambat. Jadi pemakaian pelanggan bukan semakin banyak tapi semakin sedikit. Makanya PLN rutin melakukan pemeliharaan meter, karena jika meternya rusak, yang dirugikan itu PLN bukan pelanggan,” jelasnya.

Meski demikian, penjelaskan oleh perwakilan PLN UP3 Kotamobagu kepada konsumen dinilai belum memuaskan. Pasalnya, ia tetap akan membayar dengan nilai tagihan tersebut.

“Saya rasa penggunaan listrik dibulan puasa itu biasa seperti bulan-bulan sebelumnya. Tetapi kenapa bisa sampai begitu tagihannya. Mau tidak mau harus tetap dibayarkan,” keluh sesal Rahmat.(GG)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.