Berjiwa petualang namun rendah hati, dengan selera humor yang tinggi dan energi yang tak terbatas, Filomena Reiss, yang akrab disapa Filo, telah mengukir jalannya sendiri melalui sudut-sudut yang kurang dikenal di Indonesia. Hubungannya yang mendalam dengan negara ini terus membentuk perjalanannya.
Ketika Filo tiba di Jakarta pada tahun 1996 bersama suaminya, ia tidak menyangka bahwa Indonesia akan menjadi gairah seumur hidup. Pada saat itu, dia sedang mencari cara yang bermakna untuk berinteraksi dengan lingkungannya.
Pencarian ini membawanya ke Indonesian Heritage Society, sebuah komunitas yang diam-diam membentuk jalan hidupnya. Apa yang dimulai sebagai cara untuk belajar melalui berbagai kegiatan komunitas dengan cepat menjadi sesuatu yang lebih mendalam. Perjalanan belajar mengenalkannya pada daerah terpencil dan budaya yang kurang dikenal.
Luasnya Indonesia memicu rasa ingin tahunya untuk menjelajah lebih jauh.
Tertarik oleh Yang Tak Terlihat
Tidak seperti kebanyakan pelancong, Filo mencari tempat yang memerlukan usaha untuk mencapainya.
“Tempat-tempat ini sangat menarik,” katanya. “Anda tidak hanya berkunjung, Anda mengalaminya.”
Pemahamannya semakin dalam ketika dia belajar mendekati komunitas yang berbeda.
“Saya memperbaiki cara saya berkomunikasi dengan penduduk desa dan belajar menghormati cara hidup mereka,” lanjutnya.
Daripada terburu-buru dari satu tujuan ke tujuan lain dan langsung mengambil foto, dia belajar memperlambat kecepatan dan mendengarkan orang.
“Dan ketika saya kembali untuk kedua, ketiga atau bahkan keempat kalinya, mereka memperlakukan saya seperti keluarga. Ketika Anda mendengar wanita mengundang Anda bersama ‘Mampir dulu,‘ Saya langsung merasakan sambutan hangat,” katanya.
Saat musim tanam dan panen di Negeri Baduy, ia takjub menyaksikan semangat gotong royong (kerjasama masyarakat).
“Masyarakat saling membantu tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Ini adalah tradisi yang patut dikagumi,” tambahnya.
Belajar melalui tradisi
Keingintahuan Filo semakin dalam dan ketertarikannya semakin bertambah, membuatnya ingin tahu lebih banyak, mulai dari makanan, budaya, hingga tradisi. Pasar menjadi jendela kehidupan sehari-hari, sambil mengamati produk lokal dan pakaian tradisional. Di desa-desa, kerajinan tangan menawarkan tingkat pengetahuan yang lebih tinggi. Kerajinan tradisional, mulai dari membatik, menenun, hingga membuat manik-manik, masing-masing memiliki makna.
“Tingkat keterampilan mereka luar biasa,” katanya. “Mereka bukan sekadar objek: mereka adalah bagian dari identitas seseorang.”
Apresiasinya diwujudkan dalam bentuk pelestarian. Dia mulai mengumpulkan kerajinan tangan bukan sebagai suvenir, tetapi sebagai bukti tradisi yang hidup. Upacara yang dia hadiri lambat laun menjadi pengalaman yang mengundang dia untuk ikut serta, membuatnya merasa menjadi bagian dari sebuah keluarga.
Realitas dari jalan yang tidak terlihat
Mencapai tempat-tempat ini tidaklah mudah. Bepergian sering kali berarti transportasi yang tidak dapat diandalkan, medan yang sulit, dan terbatasnya akses terhadap kebutuhan dasar.
“Anda hanya perlu beradaptasi. Ini adalah bagian dari perjalanan keluar jalur; manfaatnya sangat besar,” kata Filo.
Di daerah yang lebih terpencil, kebutuhan dasar pun mungkin tidak pasti.
“Tidak selalu mungkin menemukan tempat makan, tempat tidur, dan air bersih yang baik,” jelasnya, seraya menambahkan bahwa alam sering kali menjadi penentu keputusan.
Wilayah-wilayah ini masih terbengkalai karena alasan praktis: infrastruktur yang terbatas, waktu yang terbatas, dan preferensi umum terhadap kemudahan. Indonesia sangat luas sehingga memerlukan waktu untuk mencapai jalur yang kurang dikenal, itulah sebabnya wisatawan memilih perjalanan yang lebih mudah ke destinasi seperti Bali.
Tempat yang meninggalkan bekas
Tempat-tempat tertentu meninggalkan kesan mendalam pada Filo, dan dia kembali lagi dan lagi. Perjalanan yang paling berkesan baginya adalah kunjungan pertamanya ke masyarakat Baduy pada tahun 1997. Yang paling berkesan baginya bukanlah apa yang ada, melainkan apa yang tidak ada.
“Saya kagum melihat betapa sederhananya mereka hidup,” katanya. “Ini sangat memalukan.”
Pengalaman ini memotivasinya untuk berkontribusi kembali kepada masyarakat dengan menulis buku berjudul Urang Kenekes. Dia kemudian ikut menulis buku lain yang mendokumentasikan tekstil Baduy bersama fotografer Don Hasman.
Di Wae Rebo, Flores, ia mengenang: “Setelah berjalan enam kilometer menanjak, Anda tiba di tempat yang terasa seperti surga tersembunyi. » Di Pulau Sabu, pemandangan Kelabba Madja dan gua Mabala memberikan “kesan perjalanan menuju pusat bumi”.
Di Kepulauan Banda yang dikenal dengan Kepulauan Rempah, cerita berlanjut dengan lebih tenang. Itu adalah tempat yang dia sebut surga meskipun sejarahnya kelam.
“Pulau-pulau kecil ini pernah membentuk dunia melalui perdagangan rempah-rempah,” katanya. “Sungguh menakjubkan melihat ini dalam kehidupan nyata.”
Bepergian dengan tujuan: memberi kembali kepada komunitas
Bagi Filo, bepergian ke destinasi yang jauh bukan sekadar tentang penemuan; ini juga tentang menciptakan dampak yang berarti bagi komunitas yang dia kunjungi.
“Membawa wisatawan ke tempat-tempat ini membantu perekonomian lokal,” jelasnya.
Melalui penelitiannya mengenai tekstil Baduy, ia membantu menghidupkan kembali pola dan pewarna alami yang terlupakan. Saat tinggal di sebuah desa di Flores pada tahun 2012, Filo memperhatikan kurangnya fasilitas sanitasi yang memadai.
“Ini adalah tujuan wisata, tapi sebenarnya tidak ada toilet,” kenangnya.
Bertekad untuk membantu, dia mengadakan pertemuan lokal sanggar kinerja, dengan mendokumentasikannya dalam artikel yang diterbitkan di Pos Jakarta. Dia kemudian menggunakan royalti tersebut untuk membiayai pembangunan toilet.
Di Timor Barat, dampaknya lebih bersifat pribadi, dibentuk oleh hubungan yang dibangun seiring berjalannya waktu. Untuk membiayai pembangunan sumur di Pulau Sabu, ia berpartisipasi dalam “Walk for a Cause” pada tahun 2016, menempuh jarak 1.000 kilometer.
“Ini bukan hanya tentang berkunjung,” katanya. “Ini tentang memberi kembali.”
Koneksi permanen
Kini berusia 70 tahun, Filo terus melakukan perjalanan dengan rasa ingin tahu yang sama yang membawanya ke Indonesia.
“Saya masih memiliki banyak tempat yang ingin saya kunjungi,” katanya. “Tujuh puluh hanyalah angka.”
Meski secara fisik telah pindah, koneksi Filo dengan Indonesia tetap kuat dan memaksanya untuk kembali dan terus mendampingi wisatawan dan ekspatriat di jalur nusantara yang tak kasat mata.
“Hatiku masih di sana,” katanya. “Bahkan setelah bertahun-tahun, masih banyak hal yang bisa ditemukan. »
Ikatannya tidak dibentuk oleh jalan yang telah dia lalui, namun oleh hubungan yang terus dia bentuk, sementara kerendahan hati dan kemurahan hatinya menginspirasi orang lain untuk melakukan eksplorasi bersamanya. Pesannya sederhana: “Jika Anda menginginkan pengalaman yang benar-benar unik, lakukan lebih dari sekadar destinasi biasa dan kunjungi permata tersembunyi di Indonesia. »
Perjalanan Filo mengingatkan kita bahwa pengalaman yang paling bermakna sering kali berada di luar pengalaman yang sudah biasa.


















