Home Internasional Maraknya kewarganegaraan sachet di Indonesia

Maraknya kewarganegaraan sachet di Indonesia

7
0


Masukkan apa saja perang (warung makan informal) dari Sabang hingga Merauke, dan Anda dapat dengan mudah menemukan deretan bungkus plastik sekali pakai kecil berkilauan yang tergantung seperti ganggang perkotaan. Dari suntikan kafein hingga deterjen, ekonomi sachet telah lama menjadi jawaban pragmatis Indonesia terhadap kondisi arus kas yang sulit. Ini adalah kelas master dalam aksesibilitas mikro. Namun logika ekonomi sachet tidak lagi terbatas pada barang konsumsi saja. Hal ini semakin membentuk cara warga berinteraksi dengan negara. Secara tradisional, kontrak sosial mengacu pada tawar-menawar implisit antara warga negara dan pemerintah: warga negara memberikan legitimasi, pajak, dan partisipasi politik, sementara negara menyediakan barang publik, keamanan, dan hak-hak sipil.

Inilah yang saya sebut dengan “paket kewarganegaraan”. Sama seperti produk sachet yang memungkinkan konsumen membeli sampo atau kopi dalam jumlah kecil dibandingkan satu botol atau kemasan penuh, masyarakat juga semakin menerima manfaat publik dalam bentuk peningkatan transaksi kecil. Hal ini dapat berupa bantuan tunai satu kali, program sosial sementara, atau pesan politik sederhana yang dirancang untuk dikonsumsi segera. Alih-alih memperkuat hak-hak dan lembaga-lembaga yang berkelanjutan, tata kelola pemerintahan semakin banyak dilakukan melalui intervensi-intervensi terisolasi yang memberikan manfaat langsung namun hanya memberikan sedikit keamanan jangka panjang.

Akibatnya, kewarganegaraan berisiko menjadi hubungan yang tidak langgeng antara warga negara dan negara dibandingkan dengan serangkaian transaksi jangka pendek. Meskipun pendekatan ini tampak efektif dan responsif, pendekatan ini dapat menghambat investasi pada lembaga-lembaga yang lebih kuat dan kepentingan publik jangka panjang yang mendukung akuntabilitas demokrasi dan ketahanan nasional.

Kebijakan transaksi mikro

Di bidang politik, konsep kewarganegaraan dalam satu sachet paling terlihat dalam kerancuan yang diperhitungkan antara perlindungan sosial dan loyalitas pemilu. Siklus pemilu baru-baru ini di tingkat nasional dan daerah telah menyoroti tren yang mengkhawatirkan dalam hal bantuan sosial (bantuan sosial) program menjadi tidak dapat dibedakan secara fungsional dari kebijakan moneter yang canggih. Alih-alih melibatkan para pemilih dalam wacana ideologis jangka panjang, hubungan negara-warga negara justru direduksi menjadi serangkaian transaksi mikro.

Ini adalah tata kelola “distribusi”. Ketika negara memberikan sebungkus beras atau bantuan tunai langsung sebelum pemilu, negara tersebut tidak melakukan investasi pada visi nasional bersama; itu membeli layanan satu kali. Begitu “produk” – suara – diambil, “kemasan” – warga negara – sering kali dibuang. Hal ini menyisakan “plastik politik” yang tersebar luas: sebuah lanskap sinisme yang mengakar dan terkikisnya kepercayaan institusional yang bertahan lama setelah siklus promosi berakhir.

Prestasi melalui prestasi digital

Fragmentasi ini meluas ke ekonomi syariah yang berkembang pesat. Indonesia telah menyaksikan peningkatan signifikan dalam budaya “hijrah mikro”, di mana kewajiban spiritual dan ekonomi semakin dipenuhi melalui keuangan syariah bergaya sachet. Penekanan tradisional pada pengelolaan komunitas Wakaf (dana abadi) yang dirancang untuk membangun infrastruktur berkelanjutan, seperti rumah sakit atau universitas, kini dikalahkan oleh donasi mikro digital yang sangat individual.

Meskipun demokratisasi amal melalui teknologi keuangan patut dipuji, hal ini sering kali menghasilkan kepuasan spiritual sesaat yang dicapai melalui transfer digital yang sangat kecil, seperti 5.000 rupee (sekitar $0,29) zakat pembayaran. Intervensi mikro seperti ini tidak memiliki bobot struktural yang diperlukan untuk mengatasi akar kesenjangan yang sistemik. Hal ini berisiko mengurangi kompleksitas keadilan sosial Islam menjadi pengalaman ritel yang dangkal, di mana masyarakat membeli sejumlah kecil barang tanpa pernah mempertanyakan kesenjangan ekonomi yang memerlukan amal tersebut.

Pertahanan episodik

Bahkan sektor yang paling monolitik sekalipun, seperti pertahanan nasional, menunjukkan tanda-tanda pengadaan dan strategi bergaya sachet, khususnya di bidang maritim. Bagi negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17.000 pulau, kedaulatan memerlukan kehadiran yang berkelanjutan dan terintegrasi. Sebaliknya, pendekatan yang dilakukan di Indonesia sering kali menyerupai serangkaian intervensi reaktif yang berukuran kecil.

Misalnya, di Laut Natuna Utara, negara sering kali mengerahkan gelombang patroli secara tiba-tiba sebagai respons terhadap insiden penangkapan ikan ilegal atau penyerbuan wilayah yang menjadi viral, namun kemudian ditarik ketika anggaran minyak atau selera politik berkurang. Daripada arsitektur maritim terpadu – dimana Angkatan Laut, Penjaga Pantai (Badan Keamanan Laut/Bakamla) dan pemantauan perikanan berfungsi sebagai satu kesatuan yang berkelanjutan – kewenangannya terfragmentasi. Pemerintah Indonesia dapat membeli Rafale kelas atas dalam jumlah kecil, namun tanpa rantai pasokan antarlembaga yang kuat dan pendanaan yang berkelanjutan, perlindungan tersebut akan tetap rapuh dan bersifat episodik.

Biaya regresif logika ritel

Secara budaya, media kewarganegaraan sedang dikonfigurasi ulang melalui kacamata media sosial yang singkat. Pemerintah Indonesia semakin mengabaikan debat formal di parlemen dan konferensi pers yang ketat dan lebih memilih pemimpin opini utama dan “buzzer” yang terorganisir untuk memperkuat narasi tertentu.

Ketika undang-undang yang rumit memerlukan dukungan publik, negara menggunakan influencer untuk memasarkan kebijakan tersebut dalam video berdurasi 60 detik yang mudah dicerna. Pendekatan ini mengutamakan estetika keterlibatan dibandingkan isi wacana sipil. Ini adalah versi propaganda profesional yang menjual rasa kemajuan sekaligus menghilangkan nilai gizi dari perdebatan politik yang sebenarnya.

Tragedi dari “logika ritel” ini adalah bahwa ia bersifat regresif secara matematis. Sama seperti sampo sachet yang harganya jauh lebih mahal per mililiternya dibandingkan per botolnya, kewarganegaraan sachet juga membebankan “pajak kemiskinan” yang besar kepada orang-orang yang diklaim dilayaninya. Hal ini menciptakan budaya pemberian imbalan dalam skala kecil dan bersifat langsung yang mengaburkan dasar-dasar layanan kesehatan, pendidikan, dan hak-hak pekerja yang sudah runtuh.

Menuju kewarganegaraan yang berkelanjutan

Masyarakat Indonesia telah lama menguasai ekonomi sachet. Ini adalah bukti kecerdikan mereka dan merupakan alat yang diperlukan untuk bertahan dari arus kas yang sulit. Namun jika paket tersebut merupakan strategi brilian untuk kelangsungan hidup individu, maka hal ini merupakan model yang membawa bencana bagi tata kelola nasional. Paket nasi bantuan sosial Untuk melakukan patroli tabrak lari di Laut Natuna, Negara menawarkan versi tata kelola yang mudah diterapkan namun mustahil untuk dipertahankan.

Jika masyarakat dipaksa untuk menerima hak-hak mereka melalui langkah-langkah transaksional kecil ini, mereka tidak akan terkejut ketika “produk” tersebut gagal memenuhi kebutuhan mereka selama krisis yang sistemik. Sudah waktunya untuk menuntut model kewarganegaraan yang tidak hanya mudah dikonsumsi, namun juga dibangun untuk bertahan lama.

(Andrew Litz Saya mengedit bagian ini)

Pendapat yang dikemukakan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Fair Observer.



Source link