Home Internasional Penduduk Durban memprotes kekurangan anggaran dan kenaikan tarif

Penduduk Durban memprotes kekurangan anggaran dan kenaikan tarif

2
0



Warga Durban kemarin bersatu dalam protes massal terhadap usulan anggaran 2026/2027 dan kenaikan tarif yang menyertainya, menyatakan ketidaksetujuan mereka atas apa yang mereka gambarkan sebagai rencana keuangan yang cacat yang melemahkan tata kelola kota dan pemberian layanan.

Dipimpin oleh Gerakan Protes Pembayar Pajak eThekwini (ERPM) yang dipimpin oleh Asad Gaffar, para pengunjuk rasa menyampaikan sebuah memorandum yang menggambarkan kesatuan posisi masyarakat dan multi-partai mengenai keputusan anggaran kota.

Tuntutan utama yang diajukan oleh Gaffar dan ERPM mencakup penolakan total terhadap usulan anggaran dan usulan kenaikan tarif, serta menyebut proses yang ada saat ini “tidak sesuai” dengan kerangka legislatif penting seperti UU Pengelolaan Keuangan Kota (MFMA) dan UU Sistem Kota (MSA).

Sentimen ini bergema di jalanan ketika warga menunjukkan bukti adanya kelemahan dalam integritas anggaran, kesalahan pengelolaan keuangan, dan kurangnya transparansi yang menurut mereka telah melanda Kotamadya eThekwini.

Salah satu temuan utama yang disorot dalam memorandum ERPM adalah pengungkapan bahwa anggaran tersebut kekurangan informasi penting.

Belanja di bidang-bidang penting, termasuk jasa outsourcing untuk pekerjaan pipa dan kelistrikan, serta belanja untuk jasa kapal tanker yang sangat diandalkan oleh penduduk, jelas tidak ada.

Selain itu, masalah penagihan dan pengukuran, sebuah krisis yang sedang berlangsung yang berdampak pada lebih dari 100.000 properti yang tidak memiliki meteran, telah diangkat ke permukaan, memicu kemarahan atas praktik penagihan yang tidak akurat dan sering kali bersifat menghukum.

Warga menyoroti tren yang mengkhawatirkan, termasuk meroketnya utang konsumen, yang kini melebihi R35 miliar, dan terungkapnya infrastruktur penting yang beroperasi jauh di bawah kapasitas.

“Meskipun belanja meningkat, kami terus melihat runtuhnya layanan-layanan penting seperti pengolahan air limbah dan pemadaman air yang berkepanjangan,” kata Gaffar.

Hal ini memperburuk permasalahan sosial yang ada, ketika masyarakat bergulat dengan ketidakamanan ekonomi, meningkatnya pengangguran dan tanggapan yang mengecewakan terhadap usaha kecil.

Menanggapi meningkatnya kerusuhan, walikota kota tersebut, Cyril Xaba, mengadakan pertemuan dengan pimpinan ERPM, dan mengakui kekhawatiran para pengunjuk rasa.

Ia menyoroti upaya untuk meminta masukan dari para pemangku kepentingan sebelum presentasi anggaran akhir pada akhir bulan Mei, dan menyatakan komitmennya untuk memasukkan masukan masyarakat ke dalam rencana keuangan.

Xaba merinci upaya berkelanjutan kota tersebut untuk membatasi kenaikan tarif sambil menyelaraskan dengan strategi pemulihan air dan sanitasi.

Dia saat ini memohon kepada menteri yang bertanggung jawab atas pelayanan publik untuk mempertimbangkan kembali usulan kenaikan tersebut, dengan tujuan memberikan bantuan keuangan kepada warga.

Namun, skeptisisme masih tetap ada di kalangan pemimpin masyarakat seperti Zwelakhe Mncwango dari ActionSA, yang menyoroti paradoks kenaikan tarif dengan latar belakang menurunnya pemberian layanan dan meluasnya salah urus keuangan.

Mncwango, ketika berbicara kepada para pengunjuk rasa, menyoroti hubungan antara buruknya tata kelola pemerintahan selama bertahun-tahun dan usulan anggaran saat ini.

Kritikus menyerukan penarikan segera anggaran dan menuntut pejabat tinggi kota dimintai pertanggungjawaban atas masalah keuangan yang sedang berlangsung.

Mereka menuntut reformasi besar yang mendorong transparansi, akuntabilitas dan rencana pemulihan infrastruktur yang rusak.

“Warga tidak bisa diharapkan menanggung beban inefisiensi dan pemborosan,” tegas Mncwango mencerminkan kekecewaan warga yang merasa diabaikan dan diabaikan di kotanya sendiri.

Seruan para pengunjuk rasa untuk bertindak mencerminkan tuntutan yang lebih luas untuk perubahan sistemik, dan menekankan bahwa mereka siap untuk meningkatkan upaya mereka jika kekhawatiran masih belum terselesaikan.

Berbicara mengenai masalah ini, pengurus provinsi Umkhonto WeSizwe, Gobizizwe Makhanya, menyatakan posisi partainya selama protes, dengan mengatakan bahwa kenaikan tarif yang diusulkan tidak mencerminkan kebutuhan atau pandangan masyarakat lokal.

Makhanya menekankan, presentasi anggaran yang dijadwalkan minggu depan kurang kredibel dan transparan.

“Kami dengan tegas menolaknya dengan segala syaratnya,” ujarnya seraya menegaskan tekad partai untuk mewakili suara warga daerah.

Dia lebih lanjut menjelaskan bahwa peningkatan tersebut tidak sejalan dengan konsultasi sebelumnya yang diadakan dengan komunitas eThekwini, sehingga membuat niat dewan tersebut dipertanyakan.

Lebih lanjut, Makhanya mengungkapkan keprihatinannya atas upaya pemerintah kota untuk mengkonsolidasikan penunjukan tertentu, khususnya wakil menteri kota, termasuk chief financial officer (CFO), secara permanen.

Secara kritis, ia menyatakan bahwa transisi yang sedang berlangsung menyebabkan individu-individu dipekerjakan dengan tergesa-gesa, yang dapat membahayakan kemampuan pemerintahan baru untuk menerapkan perubahan secara efektif.

“Mereka sudah mulai mempekerjakan orang secara permanen,” katanya, mengisyaratkan adanya urgensi dan ketidakpedulian terhadap perubahan lanskap politik menjelang pemilu 5 November.



Source link